TV, teman apa musuh ?

May 26, 2010 at 5:52 pm 27 comments

Siapa orang yang tidak tahu TV (televisi)?. Barangkali ini pertanyaan yang sulit dijawab karena semua orang pasti tahu TV. Kalau pertanyaannya diubah menjadi : siapa yang tidak punya TV?, apakah akan lebiha mudah untuk dijawab?. Saya rasa tidak juga, karena kenyataannya hampir setiap rumah ada TV nya. Bahkan yang belum berlistrik sekalipun. TV bukanlah barang mewah untuk saat ini. Mulai dari gubug reot sampai rumah mewah maupun apartemen pasti ada TV nya. TV sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah menjadi kebutuhan setiap orang/keluarga. Karena kemajuan teknologi, tidak hanya di rumah, di dalam mobilpun sudah bisa dipasang TV. Kita sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan TV.

Bagi keluarga kelas menengah ke bawah TV menjadi satu-satunya hiburan keluarga di rumah. Mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek perhatiannya terfokus pada TV. Permaslahannya : samapai sejauh mana dampak materi acara TV yang ditonton anak-anak terhadap perkembangan jiwanya?. Untuk menjawab permasalahan ini perlu dikaji acara-acara apa saja yang ditayangkan TV.

Seluruh stasiun TV sudah menetapkan “Positioning” perusahaannya dalam persaingan penyiaran TV di Indonesia. Ada stasiun TV yang memantapkan sebagai “news channel”. Ada pula yang menjadikan sebagai stasiun hiburan keluarga. Namun pada dasarnya semua masih didominasi dengan acara hiburan, baik berupa musik, sinetron, infotainment maupun film. Stasiun TV di luar negeri yang bisa dinikmati di Indonesia melalui operator TV berbayar acaranya lebih beragam. Ada yang khusus olahraga, adventure, fashion, education, dan lain-lain.

Untuk setasiun TV lokal acara sinetron masih mendominasi. Hal ini terjadi karena acara sinetron banyak diminati para pemirsa dari berbagai lapisan masyarakat dan umur. Sinetron menjadi acara hiburan keluarga. Bagi setasiun TV tentu akan menjadi tambang emas dari pemasukan iklan karena rattingnya akan melesat tinggi jika banyak ditonton. Bagi Production House akan semakin giat memproduksi sinetron yang diminati pemirsa agar cepat laku dijual. Lalu apa ada yang salah dengan fenomena booming sinetron di TV lokal kalau semuanya merasa diuntungkan.

Kalau kita cermati sinetron yang diputar di hampir seluruh setasiun TV lokal menyajikan tontonan tentang percintaan, drama, intrik keluarga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik yang dilakukan orang tuanya sendiri, orang tua tiri atau anggota keluarga yang lain. Kalau ini hanya dipandang sebagai hiburan dan ditonton orang dewasa tidak menjadi masalah. Tetapi akan menjadi masalah jika ditonton oleh anak-anak atau remaja yang sedang mencari jati diri. Walaupun setiap tayangan sudah dicantumkan kategori acara : anak-anak, dewasa, keluarga, bimbingan orang tua, pada kenyataannya orang tua akan sulit mengontrol apa yang dilihat anak. Belum lagi setasiun TV yang sengaja memutar acara kategori dewasa pada jam siang / sore ketika anak-anak masih di depan TV.

Tayangan TV dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, kemampuan berpikir dan imajinasi anak yang disebabkan kehadiran dua stimulus terus-menerus melalui bunyi dan gambar yang terus bergerak. Ibu / ayah tiri menjadi stigma buruk bagi anak-anak. Gaya hidup mewah menjadi trend remaja walaupun dari keluarga yang pas-pasan. Anak sekolah dengan baju yang tidak rapi (dikeluarkan), semuanya didapat dari pelajaran TV yang setiap hari dilihat. Dalam realita kehidupan ada anak yang mau bunuh diri hanya karena permintaan HP seperti di TV tidak dituruti orang tuanya. Anak jatuh dari rumah susun karena menirukan superman yang bisa terbang. Bahkan acara TV dengan kategori semua umurpun belum tentu baik ditonton anak-anak. Si Entong misalnya yang punya kesaktian seperti pesulap. Ini akan menjadikan anak maunya yang serba instan, malas berusaha, setiap yang diinginkan tiba-tiba muncul di depannya. Lalu cerita anak sekolah yang tidak jelas prestasi akademiknya tetapi kerjanya hanya pacaran dengan temannya, dan itu dilakukan masih di lingkungan sekolah. Pergi ke sekolah naik mobil mewah yang harganya ratusan juta.

Dampak lain akibat sering nonton TV adalah kemampuan anak untuk berkonsentrasi jadi pendek, yaitu hanya antara dua hingga tujuh menit, berkurangnya aktivitas fisik sehingga anak menjadi kurang terampil, kurang waktu untuk bermain, kurang sosialisasi dan komunikasi,yabg pada akhirnya menjadikan keterampilan emosi dan sosial anak tidak terlatih. Anak jadi malas dan kurang termotivasi untuk belajar. Dampak yang lebih buruk terhadap anak adalah meningkatnya agresivitas dan kekerasan dan kematangan seksual secara lebih cepat

Kalau sudah begini, apakah layak TV dianggap sebagai teman (Hiburan keluarga)?. Atau malah sebaliknya. Lalu sejauh mana peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang seharusnya menjadi “antivirus” bagi anak-anak. Belum lagi tanggung jawab moral para pihak yang berperan dalam tersiarnya acar TV yang tidak mendidik. Terlalu jauh kalau kita menuntut mereka. Yang terpenting adalah buat benteng yang kokoh dalam keluarga dengan ajaran-ajaran agama.

Entry filed under: umum. Tags: , , , .

Cerita Dibalik Thomas & Uber Cup Jadi Jutawan Berkat Souvenir Menawan

27 Comments Add your own

  • 1. Meliana Aryuni  |  May 26, 2010 at 10:51 pm

    Ketergantungan pada TV itulah penyebabnya. Tanpa arahan dari orang tua pun bila tanpa TV/ada TV, anak bisa rusak karena pengaruh zaman tidak hanya dari TV. lingkungan tempat tinggal kita juga bisa mempengaruhi perkembangan jiwa anak,Pak.
    Acara yg sia2, menampilkan hiburan yang melenaka….adalah musuh bukan teman🙂

    Reply
  • 2. Meliana Aryuni  |  May 26, 2010 at 11:03 pm

    Wah, ternyata saya dapet tempat pertama,Pak. Baru kali ini bisa kayak gini hehehe

    Reply
    • 3. skbjepara  |  May 26, 2010 at 11:29 pm

      iya bu, baru 1 jam saya posting langsung ibu guru komentar. Terimakasih kunjungannya. Semoga kita selalu bisa sharing khususnya dlm dunia pendidikan

      Reply
  • 4. smg-mus  |  May 26, 2010 at 11:33 pm

    kalo ditimbang2 kok lebih berat ke jadi musuh ya, lha acara yg disajkan semakin nggak mutu, apalagi namanya anak2 langsung tiru2 tanpa mikir (orang tua juga sama kali). . . . . . tugas orang tua lah yg jadi tambah berat hrs bisa ngatur anak2nya, bisa menyaring dgn cermat mana yg boleh ditiru mana yg tidak. . . . . . . . kecuali kalo tv nya dilihat, dipentelengi tapi . . . . . . . . . .. nggak disetel.

    Reply
    • 5. skbjepara  |  May 26, 2010 at 11:39 pm

      ha……ha…….., yg lebih repot lagi klo orang tuanya juga suka nonton sinetron cengeng, infotainment, gosip, dll.

      Reply
  • 6. bragy  |  May 26, 2010 at 11:44 pm

    Saya sbg ortu yg lagi mendidik anak balita juga merasa prihatin dg acara TV sekarang yg banyak menyajikan acara yg jauh dari unsur mendidik

    Reply
  • 7. skbjepara  |  May 26, 2010 at 11:46 pm

    Saya juga prihatin, sama bang!

    Reply
  • 8. Delia  |  May 27, 2010 at 1:43 am

    lia juga prihatin pak T_T
    Maka itu dr sekarang lia selalu mengawasi adik2 kalo menonton tivi..
    semua ada jadwal.. dan acara mana aja yg bisa ditonton…

    mungkin terdengar keras.. ntp lebih baik memberik mereka bacaan…

    Reply
    • 9. skbjepara  |  May 27, 2010 at 1:13 pm

      ya bagus klo begitu, memang anak klo tdk diawasi ya bahaya.

      Reply
  • 10. AopaPANDA  |  May 27, 2010 at 4:14 am

    Kamar kosku ud g pk tv!tayangan byk yg bikin emosi, didominasi gosip dan kekerasan. KPI harus lebih sangat tegas bgt sekali dlm menyaring tayangan!

    Reply
    • 11. skbjepara  |  May 27, 2010 at 1:14 pm

      memang, lama2 kita jadi muak juga

      Reply
  • 12. zimar  |  May 27, 2010 at 10:01 am

    Bagaimanapun juga tanpa TV hidup terasa sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

    Reply
    • 13. skbjepara  |  May 27, 2010 at 1:17 pm

      memang, asal selektif saja.

      Reply
  • 14. SKB Temanggung  |  May 27, 2010 at 12:58 pm

    Diapa-apakan TV tetep teman pak….

    Reply
  • 15. skbjepara  |  May 27, 2010 at 1:36 pm

    teman tapi mesra?

    Reply
  • 16. Flexter MLM Syariah  |  May 27, 2010 at 3:29 pm

    tv itu teman sekaligus musuh… sama seperti FB, bikin kecanduan…. sayangnya acara tv kebanyakan maksiat…. -,-‘

    Reply
  • 17. rainbroccoli  |  May 27, 2010 at 4:09 pm

    Saya sangat setuju bahwa TV lebih bawa dampak negatif ketimbang positif untuk anak-anak…
    Orangtua jaman sekarang harus lebih kreatif untuk mengalihkan perhatian anak dari TV….

    Reply
  • 18. KitaSukaWordPress  |  May 27, 2010 at 6:57 pm

    wah, jadi khawatir ni. inget ponakan sukanya nonton tv. sampe hafal pak kata2 yang ada di iklan. saya pikir dia jenius, daya tangkapnya bagus y. tp ternyata efeknya buruk. perlu dikasi tau kayaknya ni.
    salam, http://kitasukawordpress.wordpress.com

    Reply
  • 19. Nate DeLorean & James Sheilling  |  May 27, 2010 at 7:09 pm

    Tolong para orang tua mengawasi/mendampingi putra-putrinya pada saat menonton TV.

    Reply
  • 20. mus.tm  |  May 27, 2010 at 9:22 pm

    mana tuntunan mana tontonan, kebalik balik nggak jelas? tantangan buat ortu dalam mendidik putra putrinya

    Reply
  • 21. pondokhati  |  May 28, 2010 at 12:26 pm

    memimpikan stasiun TV ISLAMI di indonesia. kapan ya???

    Reply
  • 22. RAtna  |  May 31, 2010 at 1:11 pm

    kalo dari skb temanggung bilang diapa2kan tv tetap teman tp bagi saya tv adalah obat tidur,awalnya sih nonton beneran tp lama kelamaan tv msh nyala sayanya entah kemana…

    Reply
  • 23. skbjepara  |  May 31, 2010 at 3:23 pm

    minumnya sehari berapa kali?

    Reply
  • 24. sheilf@  |  June 1, 2010 at 6:56 pm

    Wah…beda tipis lah, bisa jd teman dan sekaligus jd lawan tergantung situasi dan kondisinya

    Reply
  • 25. skbjepara  |  June 1, 2010 at 10:34 pm

    asal bukan musuh dlm selimut aja

    Reply
  • 26. its  |  June 2, 2010 at 3:18 pm

    pada jaman sekarang tantangan sbg ortu menjadi lebih berat, jadi bagaimana pintar-pintarnya kita mengawasi apa yang anak-anak kita tonton dari tv. nah yang namanya pintar dlm mengawasi itu yang bagaimana??????????????????????? ada yang punya usul?…..he he he

    Reply
  • 27. tvkuindo  |  April 10, 2011 at 3:36 pm

    Pisau itu alat memasak atau alat untuk membunuh orang? televisi juga seperti itu, tergantung pemakainya

    nah untuk anda yang sudah bosan dengan acara TV indonesia yang makin hari makin buruk… klik blog saya:

    http://tvkuindo.wordpress.com/

    thanks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


HUBUNGI KAMI

Sanggar Kegiatan Belajar Kab. Jepara Mindahan Kec. Batealit Kab. Jepara Prop. Jateng
Telepon : 0291 3307634
E-mail : skb_jepara@yahoo.co.id
Website : skbjepara.com
Glitter Photos
Glitter Words

kalender

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

tamu

  • 34,378 orang

waktu

tanggal

Kegiatan

Kursus Bordir

3 th vs 3 th up

Bagaimana otak belajar

keterampilan souvenir

Apakah anda buta warna? coba tebak!

refreshing ke borobudur

peserta pelatihan tutor KF

More Photos

%d bloggers like this: